Rabu, 06 Mei 2009


Kebebasan dan kemerdekaan adalah fitrah

Seperti layaknya remaja pada umumnya. Aku adalah termasuk remaja yang sudah terbilang akhir. Usiaku telah sampai pada usia 17 tahun. Di usia muda ini, aku mulai banyak merasakan banyak hal yang sebelumnya belum pernah kurasakan sedahsyat ini.
Semangatku pernah luruh, jiwa optimis yang dulu menggunung mendadak longsor, dan harapan seperti hambar. Duniaku pernah terasa sempit dan seperti tinggal satu warna kelabu.
Parahanya, memang sudah menjadi hukum alam di sebuah sekolah aneh yang sedang kutempati. Yang tak punya inisiatif untuk bergerak maka pilihannya adalah vacuum.
Dan hal itu benar-benar kurasakan. Sungguh menyiksa raga, jiwa, pikiran dan batin. Bahkan sangat menyiksa hari-hariku.
Rupanya mengikat diri di sebuah sekolah yang tak pernah memaksaku melakukan berbagai macam hal sesuai tuntutan pihak sekolah, juga tak mudah. Karena saat stabilitasku terganggu, aku masih harus memaksa diriku untuk aktif, karena pilihan lainnya adalah vacuum dari belajar.
Aku sempat bingung dan kelimpungan mencari sesuatu untuk menumbuhkan semangatku. Bahkan, aku sempai mengalami suatu tempo yang sangat memprihatinkan.
Di tempo paling mengerikan itulah aku pernah membenci sebuah kebebasan. Karena kebebasan membuatku harus berpikir sendirian saat aku ditimpa masalah belajar. Aku tak hanya kecewa dengan system kebebasan, aku juga kecewa dengan diriku sendiri juga beberapa orang yang tak mau mengertiku.
Ya, merasa tak ada yang mengerti itulah saat-saat paling berat. Karena di tengah kesunyian, darah muda beserta seluruh kawanan ego-ego menyatu menyerbu ketenanganku. Apalagi hobbyku menulis sempat kandas. Karena mendadak aku kehilangan kata. Ini pula saat-saat memberatkan dalam hidupku. Kata seolah telah menghianatiku. Atau telah menyingkirkan diri dariku karena penghianatanku padanya?
Aku sungguh tak mengerti hari-hari misteri itu kualami. Begitu aneh. Kurasakan waktu begitu cepat berlalu. Sangat cepat. Seolah-olah, jika paginya aku menarik nafas maka ketika nafas itu kuhempaskan aku sudah menjumpai sore.
Aku tak tahu kenapa setiap hari aku seperti terus diburu waktu. Sehingga aku malas melakukan sesuatu secara focus dan tuntas.
Aku tak tahu apakah remaja-remaja lain mengalami hal ini pula?
Ini adalah saat-saat paling akut dan aku tak mau membiarkan.
Tapi sesuatu akhirnya menggerakkanku. Suatu tuntutan pribadi dan sesuatu yang jelas bersumber dari dalam diriku. Ini semua karena sebuah kebebasan yang membuatku merdeka untuk berpikir dan merenung. Mengeja situasi, memerhatikan betul jiwaku yang melonglong, dan mencoba menelisik ruang batin yang terdalam. Mencari tahu apa yang sebenarnya kuperlukan,
Aku harus bangkit!
Tekadku.
***
Aku membeli buku agenda baru. Membeli alat-alat tulis yang kuperlukan. Hari-hari berikutnya kuisi segala bentuk jadwal yang kurencanakan. Kususun target-target jangka pendek. Walnya, yang banyak kumasukkan dalam jadwal-jadwal harian adalah membaca. Membaca dan membaca.
Dalam hari-hari yang menurutku merupakan hari menyedihkan karena merasa didera kesendirian itulah aku mulai mengakrabkan diri dengan buku-buku. Hari-hariku ditemani oleh para penulis yang mengajakku banyak berdialog. Semakin hari, aku semakin haus pengetahuan dan wawasan. Buku satu selesai, masih kurang, kubaca buku berikutnya, selesai lagi, masih kurang lagi. Kubaca lagi, lagi dan lagi. Masih terus kurang-kurang dan kurang.
Aku makin mencintai buku. Makin mencintai kata yang semakin hari mulai kembali membujukku untuk rujuk kembali. Ia seperti berjanji tak akan pernah meninggalkanku kalau aku tak lagi berkhianat. Ia seperti ingin membuktikan kesetiaannya padaku asal aku tetap mau membaca dan tak berhenti berkarya.
Semakin hari, semakin kurasakan kembali nikmatnya kemerdekaan belajar hari-hari selanjutnya, kuhabiskan banyak waktu untuk mempelajari hal-hal yang kuminati. Hal yang membuatku tak semangat, tak kupelajari. Aku tak pernah merasa terlalu dibebani oleh siapapun, hanya aku yang membebani diriku sendiri. Aku tak terikat dimanapun. Aku hanya terikat lekat dengan diriku sendiri. Aku terikat kontrak dengan mimpi-mimpi. Sudah ditandatangani, tinggal menunggu pencapaiannya kalau bekal yang kusiapkan sudah cukup untuk membayarnya. Menurut kesepakatan, kontrak itu akan diperpanjang selama aku masih terus mengumpulkan bekal dan tak menghianati mimpi itu sendiri. Tapi kontrak akan dihentikan kalau aku tak lagi mau berusaha. Begitulah, mimpi kadang begitu bersahabat, tapi sangat selektif dan tak mau sembarangan berkompromi.
Pernah suatu ketika aku bertanyaa kepada pendampingku,
“Seandainya kau menjadi aku?”
“Aku masih sangat muda, aku akan pelajari semua yang aku pengini, aku akan buat diriku bersinar terus menerus dengan tidak berhenti membantu siapapun yang membutuhkanku. Dan yang terpenting, aku tidak akan membiarkan diriku dihanyutkan oleh siappaun, kecuali hanya Allah,”Begitu jawabnya. Jawaban yang terus terpatri dan semakin menjadi satu dengan semangatku.
***
Aku benar-benar berusaha untuk terus memanfaatkan kemerdekaan ini. Apalagi setelah tahu kalau ternyata Einstein saja sering bolos sekolah hanya karena ingin lebih banyak membaca. Maka, aku yang sudah diberi keleluasaan dan kelonggaran oleh sekolahku sendiri, juga harus bisa menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Untuk membaca, berpikir, merenung, menulis, melihat dunia lebih luas, dan mencoba bersikap kritis.
Aku menyadari bahwa kebebasan dan kemerdekaan amat berarti. Aku banyak memperdalam banyak hal yang aku sukai. Catat! YANG AKU SUKAI. Yang memberikan motifasi dan mempengaruhi semangatku. Hal-hal yagn membuat aku down, kutingal pergi.
Dalam suasana bebas, aku banyak melakukan hal-hal yang menarik perhatianku sendiri. Tak ada yang melarangku meski aku belajar seharian di perpus. Tak ada yang melarangku membaca segala macam buku yang tidak ada hubungannya dengan buku paket, tak ada yang melarangku dengan keras ketika aku membuat jadwal baca full selama satu minggu. Aku bebas menulis setiap hari dan bebas pula menuangkan gagasan dimanapun.
Tak ada yang melarangku berorganisasi di dalam atau di luar sekolah. Tak ada yang melarangku memenuhi ide-ide dan inisiatifku sendiri, membuat hari berlibur sendiri, menentukan waktu refreshing sendiri, menentukan target hidup sendiri, mencari teman diskusi siapapun dan dimanapun. Tak pernah ada yang benar-benar melarangku.
Sekolah selalu mengizinkan kami merintis organisasi apapun. Tak ada yang menggugat ketika kami mempresentasikan karya seperti apapun yang kami miliki.
Kebebasan serta kemerdekaan belajar membuat mimpi-mimpi kami merasa begitu dihargai.
Dan ada hal yang membuat mimpi-mimpi itu terasa semakin dekat lambaiannya adalah karena di sini, di sebuah kemerdekaan, tak pernah ada nilai angka yang mematikan. Inilah kemerdekaan yang indah. Di dalamnya ada ilmu yang luas, semangat berkarya yang menggugah, jiwa toleransi yang diam-diam mulai tertanam, kebersamaan untuk saling melengkapi yang indah. Dan di sini, banyak potensi dari masing-masing anak mulai terkuak satu persatu. Terkelupas dengan indah. Penuh ketulusan, tanpa terbebani dengan nilai-nilai angka mati.
Bahkan, di sekolah yang merdeka ini aku bebas menentukan untuk tidak mengikuti ujian akhir nasional. Semua pasti tahu, itulah ujian akhir yang bergengsi, paling menggetarkan, dan tak jarang menggegerkan. Detik-detik menunggu kelulusan seperti detik-detik menunggu hasil diagnosa dokter mengenai suatu penyakit kronis. Kepucatan hari-hari ujian selalu mewarnai sekolah-sekolah pada umumnya. Ketegangan tak berhenti membias-bias wajah penuh harap itu. Tapi suasan itu, sekali lagi, tidak sama dengan suasana sekolahku.
Jadi ketika semua teman-teman seangakat kami di sekolah lain sudah sibuk mempersiapkan ujian, sibuk ikut les tambahan, ikut bermacam-macam bimbel. Sebagian besar dari kami malah masih sibuk merajut mimpi-mimpi, membuat target jangka pendek dan jangka panjang, memikirkan cara belajar yagn baik, berusaha terus berkarya dan belajar, tanpa mau diganggu dengan ketegangan serupa. Ketegangan yang sebenarnya menurut kami adalah ketegangan menghadapi ujian yang sesungguhnya. Cara pemecahannya lebih logis dan lebih menarik.
Namuan, perjalananku, juga perjalanan teman-temanku di sebuah sekolah bebas dan merdeka--sekolah pilihan bernama sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah yang aneh ini--, masih sangat panjang. Sangaaat panjang. Kami tak benar-benar bisa mengukur dimana titik keberhasilan yang sesungguhnya akan kami raih.
Bisa jadi, menurut Pak Din membuat anak didik tak suka dengan niai angka, membuat siswa berani berkarya, membuat siswa banyak yang mandiri, atau membuat siswa mau membuat kurikulum sendiri serta banyak menuangkan ide, gagasan dan inisiatif-inisiatif baru, mungkin sudah merupakan keberhasilan sendiri untuknya.
Beda lagi dengan anak didik yang punya seabreg mimpi. Sampai-sampai, bisa belum merasa berhasil ketika beberapa mimpi sudah berhasil diraih.
***
Tapi di sini, di sekolah aneh ini, kami tak sepenuhnya bebas layaknya orang yang tak mau tahu soal peraturan-peraturan. Hidup itu tetap terikat dengan peraturan. Hanya saja, kami berusaha mengemasnya dengan kemasan istimewa. Peraturan yang kami bentuk tak bersikap formal, tidak kaku dan tidak merugikan. Peraturan yang ada harus disepakati seluruh elemen yang menjadi bagian dari kami.
Pihak sekolah tetap membekali kami dengan prinsip-prinsip kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa hidup itu harus bermanfaat untuk orang lain serta tidak merugikan orang lain. Hanya itu peraturan baku yang masih terus berlaku dari awal berdiri sampai detik ini.
Prinsip kami, kami tak mau terlalu terbelenggu. Pihak sekolah berusaha membuat kami berpikir lebih luas soal hidup yang begitu kompleks. Mengajarkan kami agar kami tak berpikir sempit, pragmatis atau pasif.
Di sini, dalam suasana bebas ini. Sekolah tetap menyediakan internet sebagai sarana untuk membuka wahana informasi yang terupdate setiap hari. Juga sarana untuk mencari para ahli atau mengeksplore pengetahuan sesuai apa yang kami minati.
Di sini juga, disediakan banyak buku untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Mulai buku paket, buku-buku biasa, kamus-kamus, novel, sampai buku-buku berbahasa inggris.
Sekolah juga mengizinkan kami membentuk forum-forum sendiri untuk memperdalam minat dan keahlian. Serta tak melarang kami jika kami menjatuhkan pilihan pada belajar secara otodidak.
Jadi, sekolah kami mengajarkan banyak hal kepada kami tentang cara bepikir dinamis. Agar tak tenggelam sejalan dengan tuntutan zaman yang memang selalu berubah-ubah.
***
Belajar paling efektif kalau dilakukan dalam suasana menyenangkan”
Peter Kline, “The Everyday Genius.”
(Dikutip dari “The Learning Revolution”, 1999)
Kelihatannya kata-kata Peter Kline memang sangat terbukti. Salah satu cara untuk menarik seseorang agar mau mencintai belajar adalah dengan menempatkannya dalam suasana yang menyenangkan. Tanpa kekangan, tanpa tuntutan yang terlalu membebani, tanpa diskriminasi, dan tanpa tekanan.
Aku termasuk manusia yang sekarang menyukai kemerdekaan dalam belajar. Rupanya belajar tanpa tekanan membuatku lebih bisa mengeksplore dan memperdalam apa yang kuminati. Dan yang paling penting, aku begitu menikmati belajar dalam suasana seperti ini.
Butuh keberanian memang. Terlebih, tak banyak orang yang suka memilih jalur aneh yang sangat menyimpang dari jalur lazim. Tapi di sinilah, di sebuah komunitas Alternatif inilah, kehidupanku terasa lebih hidup!
Inilah belajar yang sesungguhnya. Istilahnya, Universitas of life. Di sini, aku mulai banyak menghadapi berbagai masalah yang harus dipecahkan. Aku bebas menggunakan pikiranku dan menuangkan gagasan-gagasanku. Aku bebas bergerak, bebas berekspresi dan bebas menjelajah segala bidang ilmu yang kusukai.
Sekali lagi, nilai-nilai yang diberikan bukan berupa nilai angka. Tapi lebih dalam dari itu. Lebih real dan substansinyapun kena. Esensinya juga lebih terasa. Nilai-nilai itu memancar dari dalam.
Setiap waktu, setiap hari, minggu bulan dan tahun, suasana tempat belajar kami tak pernah sama. Karena kemerdekaan itu membuat komunitas ini terus bergerak dan berkembang sesuai perkembangan pikiran dan gagasan manusia-manusia di dalamnya. Tak ada kurikulum paten, tak ada kegiatan belajar monoton. Inilah belajar yang sesugguhnya, selalu grow up dan terus berubah-ubah sesuai kondisi serta menyamakan dengan perkembangan zaman.
“KUNCINYA ADA PADA DIRI KITA SENDIRI” inilah yang ditanamkan kepala sekolah kami. Yang memberi motivasi kami untuk mandiri.
Itulah mengapa setiap siswa di Q-Tha dipacu untuk terus berpikir demi sebuah perubahan dan perubahan. Perubahan kepada yang lebih baik tentunya.
“Muaranya adalah KEADILAN,” Tutur Pak Din, kepala sekolah kami.

Mimpi-mimpi

Sebagian mimpiku telah aku raih di sini. Sejak dulu, keinginan kuatku adalah jadi sorang penulis. Dan di sinilah, mulai kurasakan pencapaiannya.
Tempat belajar yang tidak terlalu formal, tidak kaku, dan tidak terlalu sistematik ini rupanya telah banyak mempengaruhi laju pemikiranku.
Sekali lagi, kuceritakan, di sini tak ada yang melarangku untuk banyak membaca, tak ada pula yang melarangku untuk banyak bertanya. Dan tak ada yang melarangku menulis segala hal yang kusuka.
“Semua karya adalah baik,” begitulah para pendamping selalu meyakinkan kami. Sehingga memompa semangat kami untuk tidak malu menunjukkan karya-karya meski acapkali tak memenuhi standar. Tapi lewat kepercayaan, dukungan dan motivasi, segala karya bisa berkembang. Mulai dari menghargai yang standar standar, karya akan berkembang ke tahap sedang, ketahap berikutnya, berikutnya sampai professional.
Kebebasan menemukan, mengeluarkan ide, serta kebebasan berimaginasi, telah membuat kami berani memiliki banyak mimpi. Membuat kami belajar kritis, mandiri serta belajar menghadapi kehidupan yang cepat berubah ini.
Andai saja seluruh anak negri ini punya kesempatan yang sama. Bisa belajar merdeka dan bebas menuangkan seluruh gagasan serta diberi kesempatan mengembangkan potensinya, tak bisa kubayangkan betapa dahsyatnya negri ini.
Bisa jadi akan muncul Albert Einstein yang baru. Atau Leonardo Da Vinci baru, , Thomas Alva Edison, atau bahkan Issaac new ton.
Bukankah manusia-manusia yang kejeniusannya diakui oleh dunia itu juga tak suka dengan bangku sekolah? Dan bukankah orang-orang besar banyak yang tak suka sekolah? Bahkan banyak dari mereka yang gagal sekolah.
Karena tak terikat dengan system kaku sekolah itulah, mereka bebas berfikir dan berimaginasi untuk menghasilkan penemuan-penemuan yang sangat berpengaruh untuk dunia.
Maka, begitu penting sebuah pendidikan yang merdeka!!!
Euphoria yang dalam dan bermakna, sama sekali tak terukur oleh materi.
Karena kebebasan dan merdeka adalah fitrah manusia sejak lahir.

6 komentar:

radesya mengatakan...

Hai fina, salam kenal ya..
Kita sama-sama 17 lho, sama-sama gemar membaca, andai saja banyak orang muda yang berpikiran seperti kamu...

Kadang kebebasan bisa disalahartikan lho...

Salut banget ma kamu, teruslah berkarya..

kawah institute mengatakan...

kebebasanmu bisa jadi semakin membebaskanmu,,,bisa jadi membelenggumu,,,,,,,,,,semoga kau bisa lebih terbuka dengan dunia luarmu,,,bukan hanya lewat cyber space semata tapi dengan mata hatimu,,,,,,,,salam hangat dan perjuangan,,,,,,,,,,keep spirit

Bengkel Sekolahan mengatakan...

pendidikan yang merdeka?

menurut para pakar otak, akal seorang manusia ada pada posisi puncak perkembangan (mentok) ketika umur biologisnya 18 tahun. sampai pada masa itu idealnya memang otak dalam kondisi merdeka sehingga pertumbuhan dendrit sangat optimal, demikian pula hubngan antar dendrit yang tersusun juga sangat kuat.
kemerdekaan beda makna dengan kesendirian. kadang kita memahami kemerdekaan diri dalam kesendirian. jelas, sulit kita bisa belajar banyak hal kalo sendiri.
mungkin bisa dicoba ato dikaji dulu gaya belajarnya para ulama kita dahulu kala yang senantiasa bermulazamah (halaqah) dengan para ahli di bidangnya. saya yakin di sekitar kita banyak ahli (ulama= orang yang berilmu). nah, tinggal ilmu apa yang ingi kita raih atau miliki sebagai pilihan atau kemerdekaan tinggal kita datang ke orang di sekitar kita yang sudah diketahui ahli dalam ilmu tersebut.
memang orang yg beriman sesungguhnya adalah org yg memiliki kemerdekaan (hurriyah). hanya ilmulah yang membuat mereka menjadi tidak merdeka...

fachrul mengatakan...

Assalamualaikum,, tulisanmu bagus, kau menulis dengan hati sama sepertiku, namun ku pikir lebih bagus tulisanmu,, kalau mau kita buat kerja sama organisasi,, apapun itu bentuknya yang pasti untuk kebaiakan umat..syukron

Fina Af'idatussofa mengatakan...

Terimakasih Maaf blog ini lama tidak bisa dibuka :)

Fina Af'idatussofa mengatakan...

Hehe.. ternyata tulisan ini memang lebai... tapi itulah proses waktu itu...